Monday, November 4, 2013

Empat Tiang Rohani





                  Shalom Jemaat Tuhan yang terkasih,  salah seorang tokoh misi Indonesia, yaitu Pendeta Petrus Octavianus, memiliki masa lalu yang penuh dengan penderitaan. Kehidupan masa lalunya tidak mudah untuk dijalani. Beliau berasal dari keluarga yang sangat miskin di sebuah desa kecil yang ada di pulau Rote-NTT, yaitu desa Laes. Derit yang dialami Petrus Octavianus tidak membuatnya putus asa, tetapi justru memacu semangatnya untuk terus maju dan berjuang. Ketekunan didalam doa, belajar, bekerja serta karena perkenanan Tuhan kepadanya, membuat anak yatim asal Rote tersebut berhasil “menapak ke atas” di dalam hidupnya. Akhirnya ia berhasil meraih gelar doktor dalam bidang teologi dan filsafat di dua universitas yang ada di Los Angeles.

Ada  hal yang menjadi fondasi Pertus Octavianus untuk bisa tetap konsisten dalam perjalanan hidup dan pelayanan hingga akhir hayatnya, yaitu yang disebut dengan empat tiang rohani. 4 tiang rohani itu adalah Iman, Kekudusan, Pengorbanan, dan Persekutuan. Iman merupakan dasar yang sangat penting. Petrus Octavianus tidak akan mampu melewati masa-masa sukar pada masa lalunya, jika ia tidak memiliki iman yang teguh kepada Tuhan. 
Kemudian kekudusan, juga hal yang penting bagi setiap orang percaya. Tanpa kekudusan, kita tidak akan bisa mengetahui apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi perjalanan hidup kita. 
Pengorbanan, merupakan sikap yang juga dikehendaki Tuhan. Melaluinya, kita belajar bagaimana memberikan yang terbaik dalam hidup kita untk Tuhan. Jadi, bukan sekedar kita menerima yang terbaik dari Tuhan, namun kita mau berkorban untuk Tuhan, melalui daya maupun dana kita. 
Dan persekutuan, menunjukan salah satu ciri umat Tuhan. Dalam hal ini, kita diajar agar kita hidup bukan hanya untuk Tuhan saja, melainkan hidup kita adalah untuk Tuhan dan sesama. Kehidupan umat Kristen adalah kehidupan yang bersekutu, yang di dalamnya dapat saling membangun dan menopang.

Iman, Kekudusan, Pengorbanan, dan Persekutuan adalah kunci untuk mendapat perkenanan hidup dari Tuhan  


Monday, September 30, 2013

KUAT DALAM ANUGERAH



Sebab kita berjuang bukannya melawan manusia,
melainkan melawan kekuatan segala setan-setan yang menguasai zaman yang jahat ini.
Kita melawan kekuatan roh-roh jahat yang menguasai ruang angkasa."
Efesus 6:12 (BIS)

                     
                 Shalom Saudara,setiap anak Tuhan sedang berperang hingga saat ini. Jika tidak, kita sebenarnya berasal dari dunia ini dan tertipu, mengira bahwa kita ini milik Tuhan, padahal bukan. Saya menyadari, itu pernyataan yang keras, namun ijinkan saya menggambarkan realitasnya. Bayangkan saudara hidup di jaman pada masa pemerintahan Adolf Hitler. Pemimpin tiran ini pada akhirnya ingin menegakkan orde baru hegemoni Nazi Jerman secara mutlak di dataran Eropa. Ia memiliki prasangka rasial sangat parah, dan ras yang paling dibencinya adalah keturunan Yahudi. Jika saudara berasal dari keturunan Jerman, cerdas, sehat, dan pemikiran saudara tidak menggangu misi Adolf Hitler, saudara bisa hidup dengan tenang, terbebas dari kecemasan jangan-jangan akan diserang atau ditangkap.
 
Akan tetapi, jika saudara berasal dari keturunan Yahudi, kehidupan saudara jelas berbeda sekali.  Saudara terus menerus berada di bawah ancaman dan kemungkinan diserang. Kapan saja Saudara bisa saja difitnah, diludahi, harta milik saudara dirusak atau dicuri. Saudara harus waspada agar tidak ditangkap, diperbudak, disiksa, dan dibunuh. Entah Saudara menyukainya entah tidak, Saudara sedang berperang. Orang Yahudi yang pintar dan bijaksana mempersenjatai diri mereka dan melakukan apa saja yang perlu untuk menghindari tirani Hitler. Mereka yang tidak siap berakhir dipenjarakan di kam konsentrasi.
 
Iblis dan antek-anteknya jauh lebih buruk daripada Hitler dan rezim Nazinya. Jika Saudara berasal dari keturunan iblis, Saudara bukan sasaran tembak. Saudara tidak perlu bersikap sebagai prajurit yang sedang berperang. Yesus berkata kepada para pemimpin yang munafik pada zamannya, "kamu dari dunia ini." (Yoh 8:23). Kemudian, untuk memastikan bahwa mereka tidak keliru memahami pernyataanNya, Dia berkata secara langsung,"kamu berasal dari bapakmu, yaitu iblis." (Yoh 8:44). Meskipun para pemimpin ini percaya bahwa mereka melayani Allah yang mahakuasa, sebenarnya mereka melayani pemimpin tiran dari dunia ini.
 
Jika Saudara sungguh-sungguh berasal dari Allah, maka Saudara harus berjaga-jaga karena dunia tempat tinggal kita ini memusuhi segala sesuatu yang berasal dari kerajaan Allah. Yesus menunjukkan hal ini dengan berkata,"sekiranya kalian milik dunia, kalian akan dikasihi oleh dunia sebagai kepunyaannya. Tetapi Aku sudah memilih kalian dari dunia ini, jadi kalian bukan lagi milik dunia. Itu sebabnya dunia membenci kalian.” (Yoh 15:19, BIS)


Wednesday, August 21, 2013

HIDUP BAGI INJIL KRISTUS



"Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka,
 sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya."
Galatia 1:23

Sering kita jumpai banyak pelayan Tuhan yang lebih mengutamakan penampilan lahiriah. Mereka dianggap berhasil atau dipakai Tuhan secara luarbiasa bila secara kasat mata bergelimang materi: kaya, bermobil mewah, mengenakan pakaian atau aksesoris mahal dan bermerek. Alkitab menyatakan, "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah, manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati." 1 Samuel 16:7b

Dalam melayani Tuhan Paulus adalah seorang yang apa adanya. Ia tidak malu mengakui kelemahan dan kekurangannya. Dengan jujur ia mengakui bahwa dirinya adalah mantan orang berdosa. "Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihaniNya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu diluar iman...di antara mereka akulah yang paling berdosa." 1 Timotius 1:13,15
Berbeda dengan orang-orang Kristen di jaman sekarang ini yang kebanyakan  berusaha menyembunyikan kekurangan dan kelemahannya karena takut reputasinya menjadi rusak. Rasul Paulus menyadari bahwa beroleh kesempatan melayani Tuhan adalah suatu anugerah yang tak ternilai harganya. Karena itu ia berkomitmen untuk bekerja mati-matian demi Injil. Ke mana pun ia pergi, di mana pun berada, dan kapan pun waktunya, tak henti-hentinya ia bersaksi tentang salib Kristus dan juga membagikan kasih yang telah diterimanya dari Tuhan. Meski didera oleh berbagai macam kesulitan, ujian, aniaya dan penderitaan, tak menyurutkan langkahnya untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan. Dalam mengerjakan panggilan Tuhan ini Paulus tidak mencari nama besar atau pujian dari manusia. Ia selalu memperkenalkan Yesus Kristus yang telah menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan maut. Jadi tujuan utamanya adalah membawa orang sebanyak-banyaknya percaya kepada Kristus dan diselamatkan.

Seorang pelayan Tuhan sejati akan mengagungkan dan mengutamakan Tuhan, semua hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Yang tak dilupakan Paulus adalah keseimbangan antara perkataan dan perbuatan. Ia tidak hanya berbicara, namun juga mempraktekkan apa yang dikatakannya.

"Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya."
2 Timotius 4:2



Tuesday, August 13, 2013

PRAJURIT KRISTUS YANG TANGGUH




"Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus"
2 Timotius 2:3

                     
 Menjadi pengikut Kristus merupakan panggilan yang sangat mulia karena  kita tidak hanya diangkat sebagai anak-anak Allah, seperti tertulis: "Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus." (Galatia 3:26), tetapi kita juga dipersiapkan untuk menjadi prajurit-prajuritNya. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa setiap orang percaya sedang diperhadapkan dengan peperangan rohani yaitu berperang melawan "..pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12).
Oleh karena itu, kita harus benar-benar menjadi seorang prajurit yang tangguh supaya kita dapat melawan dan mematahkan segala tipu muslihat iblis.

Ketahuilah bahwa iblis selalu menjalankan taktik liciknya dengan berbagai macam cara untuk menjatuhkan iman anak-anak Tuhan. Jika kita tidak melawannya, kita akan terseret dan termakan oleh bujuk rayu iblis. Rasul Petrus menasihatkan, "lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama." (1 Petrus 5:9).
 
Memang untuk menjadi prajurit yang benar-benar tangguh di akhir zaman tidaklah mudah, ada harga yang harus kita bayar:
1. Ikutlah menderita ~ Endure Hardship artinya bertahan dalam kehidupan yang berat, bertahan dalam kehidupan yang tidak nyaman. Orang Kristen harus dapat bertahan dalam masa-masa yang berat, yang sulit, harus siap menderita. Jemaat harus bangkit, bangun dan dilatih menjadi prajuritnya Tuhan.
2. Fokus kepada Tuhan sepenuhnya.
Dikatakan, "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya." (2 Timotius 2:4). Seorang prajurit yang masih harus terus disibukkan dengan urusan pribadi dan mengesampingkan perkara-perkara rohani tidak akan berkenan kepada Tuhan. Banyak orang Kristen yang tidak lagi mengutamakan Tuhan dalam hidupnya. Jam-jam doanya berkurang, tidak lagi tekun membaca dan merenungkan Firman Tuhan dan mulai malas beribadah dengan alasan capai atau sibuk bekerja. Sangatlah berbahaya bila seorang prajurit telah kehilangan fokus saat berperang meski itu hanya sesaat saja karena ia bisa kehilangan nyawanya.

Tuhan adalah komandan kita, dan sebagai prajurit kita harus taat kepadaNya.
Apapun yang diperintahkan komandan kita harus kerjakan dengan sepenuh hati
tanpa ada perbantahan.


Thursday, July 25, 2013

Lanjutkan Hari Esokmu




                     
                      Shalom  saudaraku, Sandiaga Uno adalah salah satu pengusaha muda yang sukses. Kiprahnya di dunia usaha sebenarnya bermula dari ketidaksengajaan. Awalnya ia adalah seorang pegawai biasa. Saat krisis moneter melanda Indonesia, Sandi di PHK dari kantor tempatnya bekerja. Namun, ternyata ada hikmah dibalik musibah ini. Ketiadaan pekerjaan membuatnya harus berpikir keras untuk bisa bertahan hidup. Membuka usaha sendiri adalah jawabannya. Ternyata tidak mudah menjadi pengusaha. Memulai usaha dengan modal yang minim, kantor yang sangat kecil, serta jumlah karyawan yang seadanya, ia harus bersusah payah mencari klien mulai dari nol. Kini, Sandiaga Uno bisa dikatakan telah memiliki segalanya. Setelah sukses dengan mendirikan sebuah perusahaan investasi, ia merambah ke banyak bidang lain, seperti penambangan batubara, perusahaan penyedia menara telekomunikasi, perusahaan pengelola aset, dan yang terakhir adalah membeli saham sekaligus menyelamatkan sebuah maskapai penerbangan Nasional yang hampir bangkrut.
 
Transformasi kehidupan dari seorang wanita pendosa yang hampir saja dilempari batu sampai mati juga menarik untuk disimak ( Yoh 8:7 ). Setelah mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, ia memutuskan untuk bertobat. Demikian pula halnya dengan Maria Magdalena yang memilih bangkit dan melanjutkan hari depannya dengan kehidupan barunya setelah Yesus mengusir tujuh setan dari dalam dirinya ( Mar 16:9, Luk 8:2 ). Ia menjadi orang pertama yang bertemu Yesus setelah bangkit dari kematian, sekaligus orang pertama yang mengabarkan tentang Yesus yang bangkit kepada murid-murid yang lain.  Demikian pula dengan apa yang telah dilakukan oleh Maria saudara Lazarus. Alkitab mencatat tindakannya menyeka  kaki Yesus dengan minyak narwastu, memakai rambutnya sendiri, sampai-sampai Yesus berkata,"Sesungguhnya dimana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."
( Mat 26:13 )
 
Sesungguhnya setiap hari menjadi kesempatan bagi kita untuk menulis sejarah baru kehidupan. Warren Buffet, salah satu orang terkaya didunia membuat satu kutipan indah, "Semua orang baik memiliki masa lalu, semua orang berdosa memiliki masa depan." Hidup ini sebenarnya simple, hanya butuh keberanian untuk menjalaninya. Ketika anda gagal, bangkit lagi. Jika anda sempat jatuh dalam dosa, mari akui dosamu di hadapan Tuhan, lalu bertobat dan mulailah hidup yang baru. Anda tidak bisa memiliki hari esok yang lebih baik, jika masih terus-menerus memikirkan masa lalu. Di dalam Tuhan, masa depan kita sungguh ada, dan pengharapan itu tidak akan hilang ( Ams 23:18, Yer 31:17 ). Hidup hanya sekali, namun jika digunakan dengan baik, sekali saja cukup! Itu sebabnya, kita wajib mengelola kehidupan masa sekarang dengan bijak supaya tidak menyesalinya kemudian.

Tidak pernah ada kata terlambat.
                            Selama ada semangat, akan selalu ada solusi untuk melakukan perubahan

Thursday, June 13, 2013

BERKAT YANG LUPUT KARENA KEEGOISAN




Bacaan : Yakobus 4 : 1-2
                     
Saya sedang menonton siaran On The Spot di Trans7 TV. Saat itu acara yang ditayangkan adalah tujuh jenis hewan yang selalu berkelahi di antara sesama jenis karena memperebutkan sesuatu. Salah satu dari hewan tersebut yang menarik perhatiaanku adalah beruang. Saat itu seekor beruang baru keluar dari sungai dan hendak menyantap seekor ikan gabus yang ditangkapnya. Namun beruang itu belum memakannya, tiba-tiba muncul seekor beruang lain dan mencoba merebut ikan itu. Beruang yang pertama tidak mau mengalah, ia melawan sehingga terjadi perkelahian di antara dua beruang itu. Saat terlibat perkelahian yang seru, kedua beruang itu tidak menyadari kalau ikan gabus yang mereka tangkap sedang meronta-ronta berusaha masuk kembali ke dalam air. Ikan itu berhasil mencapai air dan pergi meninggalkan mereka yang masih berkelahi. Setelah perseteruan mereka berhenti, mereka mencari ikan itu namun sudah tidak ditemukan lagi.

Kisah dua ekor beruang ini menggambarkan sifat manusia yang egois. Si beruang pemilik ikan tidak mau berbagi dengan temannya. Sedangkan beruang yang satu lagi tidak mau bekerja, melainkan merampas apa yang menjadi milik orang lain. Ikan gabus itu bisa diumpamakan sebagai berkat, yang seharusnya dapat dinikmati oleh kedua ekor beruang tadi. Namun karena keegoisan mereka, akhirnya berkat itu tidak dapat mereka rasakan.

Keegoisan adalah sifat duniawi manusia yang masih hidup dalam hawa nafsu kedagingan. Masing-masing hanya mementingkan kepuasan diri sendiri tanpa memerhatikan orang lain, sehingga pada akhirnya berkat yang datang kepada mereka menghilang. Tuhan mengajarkan kita untuk saling berbagi dan saling memerhatikan satu sama lainnya. Selalu memberi dan bukan meminta. Aktif di dalam berbagi dan pasif di dalam menerima. Itulah kehidupan iman Kristen yang sesungguhnya. Beruang merupakan hewan yang tidak mengerti indahnya hidup berbagi. Tetapi kita manusia, telah diajarkan oleh Tuhan untuk menunjukkan belas kasihan di dalam hidup bersama.


Berbagi dan mengutamakan orang lain akan memberikan kebahagiaan tersendiri di dalam diri kita, saat kita melihat mereka tersenyum penuh sukacita. Keegoisan menunjukkan bahwa orang itu belum dewasa secara rohani. Berusahalah supaya kita berubah oleh pembaharuan budi kita dan tidak menjadi orang Kristen yang mendukakan Tuhan. Untuk itu, jangan keraskan hati kita. Biarkan Roh Kudus mengubah hati kita. Jika kita menyerahkan hidup kita di pimpin oleh Roh Kudus, maka segala sifat kedangingan kita dapat ditaklukkan. Sebab tidak ada yang dapat menghilangkan keegoisan di dalam diri manusia selain daripada kasih Tuhan yang bekerja di dalam hati kita.

Keegoisan mendatangkan keburukan tetapi kebersamaan adalah keindahan.