Tuesday, December 30, 2014

PERKATAAN FIRMAN TUHAN MEMBAWA BERKAT


Karena menurut ucapanmu engkau dibenarkan dan menurut ucapanmu engkau akan dihukum.
Matius 12:37

                 Shalom saudaraku yang terkasih, ketika kita menelusuri Alkitab dengan membacanya dari kitab Kejadian hingga Wahyu maka kita akan menemukan ada ribuan janji/ Firman Allah yang tertulis. Allah tidak hanya memberikan janji-janjiNya itu pada kita supaya kita percaya saja, tetapi supaya kita juga memperkatakan janji-janji Allah itu.  Dan melalui ucapan/perkataan, kita dapat memperoleh dua hal yaitu, dibenarkan atau dihukum.
Seseorang dapat berurusan dengan hukum bukan saja karena telah melakukan suatu tindak kejahatan, tetapi oleh karena ucapannya, perkataannya yang dianggap dapat merugikan orang lain.  Dalam dunia realitas beberapa kejadian kita melihat bahwa karena ucapannya, seseorang itu dapat berurusan dengan hukum, polisi, dan bahkan sampai ada yang masuk penjara.  Di sisi lain, apabila ucapan seseorang itu bermakna, dapat memberi inspirasi, semangat, dan motivasi, maka orang tersebut akan dihargai, dikenal baik, dan dihormati orang. Melalui ucapan seseorang, kita dapat melihat apakah ia orang beriman atau tidak. Begitu pentingnya ucapan itu.
Markus 7:27-30 menceriterakan tentang bagaimana seorang ibu, perempuan Siro-Fenesia yang percaya. Ibu ini memiliki  anak perempuan yang kerasukan roh jahat, ia datang memohon kepada Yesus supaya mengusir roh jahat itu dari anaknya. Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”. Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar Tuhan. Tetapi anjing yang dibawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak” Kata Yesus kepada perempuan ini: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu”.  Sekalipun perkataan Yesus sangat “pedas” kepadanya, namun ibu ini tetap beriman, percaya bahwa Yesus memiliki belas kasih, dan oleh ucapan ibu ini kepada Yesus maka Yesus membalasnya dengan menyembuhkan putrinya.

Melalui ucapannya, ibu ini dibenarkan dan menerima berkat dari Yesus, yaitu ia pulang ke rumah ia dapati anaknya sedang berbaring dan setan itu sudah keluar.  Masih banyak contoh lain dalam Alkitab tentang hal ini.
Apakah yang saudara ucapkan dalam kehidupan sehari-hari? Apakah ucapan atau perkataan itu  menyatakan tentang kegagalanmu, ketidakmampuanmu, kekecewaanmu, kemarahanmu? Boleh saja kita menyatakan hal itu, namun hal itu tidak berguna dan tidak mendatangkan berkat bagi kita. Janganlah ucapkan hal-hal yang sia-sia, karena dapat menambah masalah. Kita harus memiliki ucapan yang membangun, yang sedap didengar, ucapan yang mengundang kuasa Allah terjadi. Kita harus menjaga ucapan kita, berlatihlah setiap hari untuk mengucapkan/memperkatakan  Firman Allah, sebab firman Tuhan tertulis dalam 

Yehezkiel 12:28 “Tidak satupun Firman-Ku akan ditunda-tunda. Apa yang Kufirmankan akan terjadi”.



Monday, November 4, 2013

Empat Tiang Rohani





                  Shalom Jemaat Tuhan yang terkasih,  salah seorang tokoh misi Indonesia, yaitu Pendeta Petrus Octavianus, memiliki masa lalu yang penuh dengan penderitaan. Kehidupan masa lalunya tidak mudah untuk dijalani. Beliau berasal dari keluarga yang sangat miskin di sebuah desa kecil yang ada di pulau Rote-NTT, yaitu desa Laes. Derit yang dialami Petrus Octavianus tidak membuatnya putus asa, tetapi justru memacu semangatnya untuk terus maju dan berjuang. Ketekunan didalam doa, belajar, bekerja serta karena perkenanan Tuhan kepadanya, membuat anak yatim asal Rote tersebut berhasil “menapak ke atas” di dalam hidupnya. Akhirnya ia berhasil meraih gelar doktor dalam bidang teologi dan filsafat di dua universitas yang ada di Los Angeles.

Ada  hal yang menjadi fondasi Pertus Octavianus untuk bisa tetap konsisten dalam perjalanan hidup dan pelayanan hingga akhir hayatnya, yaitu yang disebut dengan empat tiang rohani. 4 tiang rohani itu adalah Iman, Kekudusan, Pengorbanan, dan Persekutuan. Iman merupakan dasar yang sangat penting. Petrus Octavianus tidak akan mampu melewati masa-masa sukar pada masa lalunya, jika ia tidak memiliki iman yang teguh kepada Tuhan. 
Kemudian kekudusan, juga hal yang penting bagi setiap orang percaya. Tanpa kekudusan, kita tidak akan bisa mengetahui apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi perjalanan hidup kita. 
Pengorbanan, merupakan sikap yang juga dikehendaki Tuhan. Melaluinya, kita belajar bagaimana memberikan yang terbaik dalam hidup kita untk Tuhan. Jadi, bukan sekedar kita menerima yang terbaik dari Tuhan, namun kita mau berkorban untuk Tuhan, melalui daya maupun dana kita. 
Dan persekutuan, menunjukan salah satu ciri umat Tuhan. Dalam hal ini, kita diajar agar kita hidup bukan hanya untuk Tuhan saja, melainkan hidup kita adalah untuk Tuhan dan sesama. Kehidupan umat Kristen adalah kehidupan yang bersekutu, yang di dalamnya dapat saling membangun dan menopang.

Iman, Kekudusan, Pengorbanan, dan Persekutuan adalah kunci untuk mendapat perkenanan hidup dari Tuhan