Bacaan : Yakobus 4 : 1-2
Saya sedang menonton siaran On The Spot di Trans7 TV. Saat itu acara yang ditayangkan adalah tujuh jenis hewan yang selalu berkelahi di antara sesama jenis karena memperebutkan sesuatu. Salah satu dari hewan tersebut yang menarik perhatiaanku adalah beruang. Saat itu seekor beruang baru keluar dari sungai dan hendak menyantap seekor ikan gabus yang ditangkapnya. Namun beruang itu belum memakannya, tiba-tiba muncul seekor beruang lain dan mencoba merebut ikan itu. Beruang yang pertama tidak mau mengalah, ia melawan sehingga terjadi perkelahian di antara dua beruang itu. Saat terlibat perkelahian yang seru, kedua beruang itu tidak menyadari kalau ikan gabus yang mereka tangkap sedang meronta-ronta berusaha masuk kembali ke dalam air. Ikan itu berhasil mencapai air dan pergi meninggalkan mereka yang masih berkelahi. Setelah perseteruan mereka berhenti, mereka mencari ikan itu namun sudah tidak ditemukan lagi.
Kisah dua ekor beruang ini menggambarkan sifat manusia yang egois. Si beruang pemilik ikan tidak mau berbagi dengan temannya. Sedangkan beruang yang satu lagi tidak mau bekerja, melainkan merampas apa yang menjadi milik orang lain. Ikan gabus itu bisa diumpamakan sebagai berkat, yang seharusnya dapat dinikmati oleh kedua ekor beruang tadi. Namun karena keegoisan mereka, akhirnya berkat itu tidak dapat mereka rasakan.
Keegoisan adalah sifat duniawi manusia yang masih hidup dalam hawa nafsu kedagingan. Masing-masing hanya mementingkan kepuasan diri sendiri tanpa memerhatikan orang lain, sehingga pada akhirnya berkat yang datang kepada mereka menghilang. Tuhan mengajarkan kita untuk saling berbagi dan saling memerhatikan satu sama lainnya. Selalu memberi dan bukan meminta. Aktif di dalam berbagi dan pasif di dalam menerima. Itulah kehidupan iman Kristen yang sesungguhnya. Beruang merupakan hewan yang tidak mengerti indahnya hidup berbagi. Tetapi kita manusia, telah diajarkan oleh Tuhan untuk menunjukkan belas kasihan di dalam hidup bersama.
Berbagi dan mengutamakan orang lain akan memberikan kebahagiaan tersendiri di dalam diri kita, saat kita melihat mereka tersenyum penuh sukacita. Keegoisan menunjukkan bahwa orang itu belum dewasa secara rohani. Berusahalah supaya kita berubah oleh pembaharuan budi kita dan tidak menjadi orang Kristen yang mendukakan Tuhan. Untuk itu, jangan keraskan hati kita. Biarkan Roh Kudus mengubah hati kita. Jika kita menyerahkan hidup kita di pimpin oleh Roh Kudus, maka segala sifat kedangingan kita dapat ditaklukkan. Sebab tidak ada yang dapat menghilangkan keegoisan di dalam diri manusia selain daripada kasih Tuhan yang bekerja di dalam hati kita.
Keegoisan mendatangkan keburukan tetapi kebersamaan adalah keindahan.
No comments:
Post a Comment